wanita gaul, sebuah perenungan diri

wanita gaul, sebuah perenungan diri

wanita gaul, sebuah perenungan diri

wanita gaul di jalan 300x231 wanita gaul, sebuah perenungan diri

wanita gaul di jalan

 

Ada wanita paruh baya angkatan 70-an mengendarai sepeda motor. Yang menarik bagiku adalah pakaiannya yang up to date. Agak terbuka, kelihatan ketiaknya dan seperti gaya gaul anak muda pada umumnya. Sebenarnya kurang cocok antara penampilan dan usianya, itu dari penilaian subjektifku. Namun ada perkara yang lebih menarik perhatian banyak orang di sampingnya, termasuk diriku. Dibalik pakaiannya yang minim ada coret-coretan garis warna merah di sekujur punggung dan lengannya yang tampak jelas. Bekas ‘kerok’an.

Garis warna merah itu ditimbulkan dari efek gesekan antara kulit dan logam untuk membuka pori-pori kulit dengan maksud untuk mengobati luka seperti demam, dan masuk angin. Orang-orang yang malas berobat ke dokter karena penyakit karena masuk angin, seperti diriku ini misalnya, lebih memilih untuk kerokan kemudian minum jamu di pasar, baru sekiranya jika masih belum sembuh maka dokter sebagai alternatif. Nah, wanita ini mungkin salah satu tipe orang yang lebih suka mengerok-ngerok kulitnya daripada berobat ke dokter.

Jadi bentuk arsiran di tubuh ini bisa sebagai bukti kuat bahwa orang yang bersangkutan sedang atau baru saja sakit. Tetapi wanita itu, yang baru saja atau sedang sakit namun naik motor dengan kondisi pakaiannya yang mengenaskan itu adalah bentuk tindakan gegabah. Kenapa? Karena ia akan rawan terkena penyakit yang sama, masuk angin dan demam. Orang ini seperti tidak menghargai kesehatannya saja. Bayangkan efek terpaan angin yang langsung menghantam kulitnya tanpa pelindung, dengan pori-pori yang masih agak terbuka karena kerikan, dan dengan kondisi kesehatannya yang belum pulih dari sakit.

Permasalahan lain adalah bagi orang-orang yang ada di pinggir jalan yang secara tidak sengaja melihatnya. Bermacam-macam anggapan bisa menggelayuti pikiran kami. Ada yang menggerutu, ada yang menatap sinis, dan ada yang kasihan. Sementara ada orang sakit, tetapi ada pihak yang malah mencemoohnya, itu adalah kesialan dua kali lipat. Ada yang bilang, “Orang ini kok sepertinya nggak menghargai dirinya sendiri!” ada yang beranggapan,”Orang ini kok percaya diri sekali ya…?”, sementara ada yang kasihan sambil melihat belang di kulitnya.”Orang ini mempertontonkan penderitaannya!” Wanita ini memunculkan kontroversi persepsi.

Di banyak tempat, banyak pula orang kurang peka kondisi. Entah kondisi terhadap diri sendiri atau kondisi terhadap lingkungan masyarakat. Mereka seolah merasa nyaman dengan apa yang telah mereka perbuat, namun di balik itu mereka menyakiti diri sendiri dan membuat lingkungan merasa terganggu.

Diantara sekian banyak orang tidak peka kondisi, yang paling parah adalah mereka yang berkepribadian terlalu percaya diri. Sehingga terkadang malah memunculkan perasaan bangga telah melakukan perbuatan tidak baik. Masalahnya penyakit ini bisa menyerang siapa saja termasuk diri kita.

 

Sebuah pemikiran untuk sesama

 

artikel terkait: wanita gaul, sikap di jalan, tidak tahu situasi, peka situasi, peka kondisi, ekshibisionis,

 

 

Posted in artikel | Tagged , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *