Kisah Seorang Anak dalam Menghadapi Ujian Hidup

Kisah Seorang Anak dalam Menghadapi Ujian Hidup

Kisah Seorang Anak dalam Menghadapi Ujian Hidup

 

%name Kisah Seorang Anak dalam Menghadapi Ujian Hidup

menghadapi ujian hidup

Ini adalah kisah nyata tentang begitu beratnya perjuangan hidup seorang anak kecil dari negeri China. Usianya baru 10 tahun, namun mampu menggemparkan nilai-nilai kemanusiaan di seluruh dunia. Sekarang, anak ini sudah berusia 15 tahun. Ia adalah seorang anak biasa, lugu, sederhana, kumuh, lusuh.

Awal mula, di sebuah kampung miskin di pinggiran hutan di Pelosok negeri China, hiduplah sepasang suami istri dan anak lelaki kecilnya. Mereka hidup bahagia walaupun dari segi materi sebenarnya kekurangan. Setiap hari, sang ayah harus banting tulang bekerja menafkahi keluarga, mencari ranting di hutan untuk mengepulkan asap dapur, sang ibu memasak dan mengurus anak semata wayang. Sedangkan sang anak yang sebagaimana umumnya seorang anak, menuntut ilmu di sekolah.

Seorang ayah yang karena kerasnya menafkahi keluarganya ini sampai mengacuhkan dan tidak menganggap penting kesehatannya sendiri. Demi anak dan istrinya. Hingga suatu saat penyakit itu datang. Tubuhnya mulai melemah, dan tiba-tiba dia lumpuh. Sekarang, dia Cuma bisa berbaring di tempat tidur.

Jangankan berobat ke dokter –yang untuk ukuran warga kampung itu adalah sesuatu yang mahal-, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun sebenarnya masih kurang. Kini tanggung jawab itu harus dipikul oleh si ibu dan anaknya. Mereka harus membagi tugas, siapa yang menyelesaikan tugas rumah, siapa yang mencari nafkah, siapa yang akan mengumpulkan ranting dari hutan, dan siapa yang harus merawat si ayah.

Karena, begitu kerasnya jalan yang ditempuh, perasaan suram, dan nyaris tanpa masa depan cerah. Si ibu menjadi depresi. Stress. Dia menjadi uring-uringan dan gampang marah. Ibu ini seringkali memarahi anaknya karena dirasa tidak banyak membantunya. Ibu ini benar-benar menjadi tidak kuat diri. Dengan perasaan sedih, si ibu meninggalkan anak itu dan si ayah yang lumpuh, dengan meninggalkan pesan: “Jagalah ayah baik-baik, Nak!”

Anak itu sangat sedih. Cobaan bertubi-tubi menghadangnya. Kini masih harus kehilangan seorang ibu yang sangat di kasihinya. Namun, hidup haruslah terus berjalan. Si anak tidak boleh terus berduka. Kini, dia adalah satu-satunya orang yang harus merawat ayahnya dan tentu saja dirinya sendiri. Untuk ukuran masyarakat miskin yang ada di sana, itu sangatlah tidak mudah. Ia harus pergi ke kota untuk bekerja. Di carinya pekerjaan ini dan itu namun tidak mendapatkannya. Hanya ada satu yang mau menerimanya, menjadi tukang batu. Buruh kasar di kota.

Inilah yang harus dilakukannya, setiap hari harus mencari kayu bakar. Memasak, Kemudian memandikan, merawat, mengobati ayahnya, dan Sekolah ke kota, kemudian bekerja sebagai buruh bangunan. Jauhnya jarak yang harus ditempuh, melewati hutan, menyeberangi sungai yang berarus deras tak menghalangi niatnya. Cuaca buruk yang sering mengubah arus sungai itu begitu menakutkan. Kadang si anak sangat ketakutan, tak berani menyeberang. Namun, bayangan ayahnya yang tergolek di kasur itu semakin menguatkan dirinya untuk terus melangkah. Tak jarang anak ini terhanyut arus. Dengan kesusahan berenang menjangkau muara di sebelah.

Di perjalanan yang susah, sering membuatnya kelaparan. Dicarinya daun-daun mana yang enak di makan, mana yang tidak. Anak ini terkadang harus mencoba-coba, mana daun yang masih layak dimakan dan mana yang beracun. Tidak jarang, si anak harus mengalami keracunan seperti gatal-gatal dan alergi.

Tak ada waktu untuk bermain-main lagi dengan teman-temannya. Sedikit perasaan iri, karena melihat teman-temannya bisa menjalani hidup sebagai seorang anak yang manja. Namun, baginya sekolah tetaplah penting. Karena itu ia tidak ingin meninggalkannya. Walau setelah itu harus mencari nafkah sebagai tukang bangunan.

Dengan tubuhnya yang ringkih, kecil mungil. Dia harus menggotong batu, mengaduk semen, naik tangga, mengangkut-angkut barang. Seharian bersama tukang buruh lainnya. Sering tubuhnya tak tahan dengan beban berat hingga gemetar tubuhnya. Lemas atau -dalam satu titik parah- pingsan. Luka di tubuhnya sudah biasa dan tidak dianggapnya penting. Seringkali dia pulang sore dengan uang secukupnya untuk segera menemui ayahnya. Merawat, memandikan, dan sekedar menyeretnya dengan susah untuk buang air. Memasak, dan memenunuhi tugas-tugas rumah sendirian kemudian baru tidur malam. Semua itu dilakukannya, dengan mandiri diusia yang masih sangat belia. 10 tahun.

Ketika di kota sering dia sengaja mencoba melihat bagaimana seorang dokter mengobati pasiennya. Bagaimana cara seorang dokter menyuntik. Kemudian harus dia praktekkan sendiri ke ayahnya. Ya, sekecil itu sudah mencoba menyuntik ayahnya sendiri. Dengan obat yang dia ramu sendiri. Dengan hasil coba-coba. Mungkin anda akan berpikir ini sebagai mal praktek. Tapi, anak ini tidak punya pilihan lain selain itu. Perasaan tidak tega melihat ayahnya yang terus kesakitan harus membuat dia mengambil resiko.

Selama lima tahun, anak ini berjuang menghidupi dirinya dan ayahnya. Sampai ada seorang warga kota yang begitu perhatian dan tidak tega terus melihat anak ini menderita. Akhirnya, diberitakannya di media.

Semua media meliputnya. Anak ini kemudian menjadi pusat perhatian. Di dalam sebuah acara penggalangan dana dan pertemuan pejabat-pejabat kenegaraan, si anak ini dihadirkan di mimbar. Spontan, tak ada mata yang tidak meleleh. Semua terharu.

Di puncak keharuan itu, seorang host menanyai anak ini.

“Nak, lihatlah di sekelilingmu ini! Dirimu sekarang tidak sendiri. Seluruh dunia memandangmu…!”, “Katakan kepada dunia apa yang ingin kamu katakan….!”

Si anak ini terdiam menunduk.

“Nak, disini ada orang-orang penting, para pejabat pemerintah, artis, pengusaha kaya, katakan apa maumu! Jangan malu…”,” Katakan Nak, apakah kamu mau Seragam baru, perawatan bagi ayahmu, hidup yang berkecukupan…?”

Si anak itu masih tertunduk tak berkutik.

“ayo, nak!” Paksa Host itu dengan tegas.

Si anak itu mulai memberanikan diri bicara.
“ Aku…. Aku…. Aku cuma mau ibu kembali!” katanya lirih sambil tak kuasa menahan air mata.

“Ibu, sekarang aku sudah tidak nakal lagi, aku sudah bisa mandiri, sudah bisa merawat diri dan ayah. Kumohon ibu, cepatlah kembali….!” Teriak ibu.

Teriakan itu semakin membuat air mata pemirsa semakin deras mengalir.
…………………………

Wahai sahabatku yang berbahagia….

Sudah bersyukurkah kita atas segala kelebihan nikmat yang kita miliki? atas rizky yang ada di diri kita.

Sebuah perenungan untuk sesama

Diinspirasi oleh Bang MuazaR, dan media…

 

artikel terkait: kisah haru, cobaan hidup, ujian hidup, perenungan, kisah sedih, cerita sedih, bakti anak, kisah anak, cerita anak, derita anak,

 

Posted in artikel | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *