Berdebat dengan Ayam, sebuah perenungan

Berdebat dengan Ayam, sebuah perenungan

Berdebat dengan Ayam, sebuah perenungan

Ketika sedang di rumah dan pagi datang, tugas untuk memberi makan ayam itu menjadi pekerjaan yang begitu merepotkan. Pertama, karena pagi yang identik dengan dingin ini mendorongku untuk berselimut, jika berselimut maka ia merangsangku untuk tetap mengantuk, dan jika mengantuk menjadikanku untuk selalu di kasur. Ayam itu telah memisahkan kenikmatanku di kasur. Kedua, suara jago berkokok yang jaraknya dengan kasurku ini Cuma dipisahkan dengan sebuah tembok, adalah kebisingan sekaligus pemutus mimpi nikmat. Karena tak terbayang banyaknya jumlah mimpi bertemu seseorang yang menyenangkan, tiba-tiba suara ayam ini yang mampir di mimpiku.

Ketiga, ini lebih karena dendam personal aku dengan ayam ini karena kerap aku harus menyisakan sebagian uang saku untuk sekedar makan mereka. Jadi, jatah uang sakuku yang tak seberapa ini harus pula aku bagi untuk makan ayamku. Ini menyedihkan. Keempat, ini yang paling susah: karena aku kepalang jatuh cinta kepada ayam-ayamku.

Persoalan itu berujung sistemik (seperti kasus Century). Tak jarang tangan di patok, kaki diinjak2, lantai rumah harus di pel karena ayam tidak bisa mengontrol sistem analnya, sistem comberan rusak.

Sementara aku begitu banyak mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya. Ayam Cuma berharap mendapatkan makan dariku. Perbedaan kebutuhan ini tidak cocok. Dan setiap ketidakcocokan pasti menimbulkan konflik. Konflik jelas membutuhkan penyelesaian. Salah satu penyelesaian yang jika tidak diimbangi dengan kesabaran, akan berakhir dengan debat. Tepatnya debat adu ngotot.
%name Berdebat dengan Ayam, sebuah perenungan

Debat adu ngotot ini memang adalah persoalan yang tidak mudah. Kenapa? Karena masing-masing saling mempertahankan egonya. Selalu berharap dirinyalah yang akan menang. Karena selalu berharap kebutuhannya dapat dilaksanakan sedangkan kebutuhan pihak lain harus disisihkan. Celakanya, kedua-duanya memiliki harapan yang sama. Maka, seringkali ending debat ini hanyalah soal bom waktu untuk sebuah pertengkaran.

Kenyataan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mendatangkan nikmat baginya adalah prinsip dasar behaviorisme. Kebutuhan ini seringkali bertentangan dengan tuntutan lingkungan, superego, prinsip-prinsip dan keyakinan kita. Inilah yang sering menimbulkan konflik, sementara kita menuntut nikmatnya, lingkungan kerap kali berlaku dogmatis dengan kekakuannya. Tidak match.

Coba hitung berapa banyak kita sering bermasalah dengan tuntutan-tuntutan hidup, yang sebetulnya jika kita mau berpikir jernih dan sedikit mengalah, maka urusan kita cepat selesai. Berapa kali anda mencoba menantang lingkungan hanya Cuma untuk menegaskan bahwa anda itu ‘ada’, lengkap dengan otoritasnya.

Mengetahui jika lampu rambu-rambu menyala merah itu adalah sebuah aturan untuk berhenti, kenapa pula kita sering tidak menaatinya. Jika batuk kenapa kita sering memaksakan minum es hanya karena nikmatnya. Korupsi itu dosa dan kita kerap melakukannya. Berbohong dan bergunjing itu tercela dan kita juga kerap melakukannya.

Kenyataannya, kita tahu selalu ada hukum sebab akibat. Selalu ada konsekuensi yang akan kita terima. Perilaku itu berdampak. Kita tidak pernah berpikir jernih ke arah sana dan Cuma lebih mementingkan kenikmatan sesaat.

Harus dikuatkan pemikiran jernihku bahwa ayam adalah pihak yang tidak boleh dipersalahkan. Jadi, aku harus mengalah untuk memberi makan ayam-ayamku. Untuk menangkal rasa mangkelku karena mengganggu tidur nikmatku, aku cuma butuh lebih mencintai ayam-ayamku ketimbang tidur pagiku itu. Dan Alhamdulillah, masalah terselesaikan.

 

artikel terkait: berdebat, perenungan, cerita ayam, hukum sebab akibat, ayam

 

Posted in artikel | Tagged , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *