Poligami, iri kepada Jago: sebuah catatan refleksi

%name Poligami, iri kepada Jago: sebuah catatan refleksi

Poligami, iri kepada Jago: sebuah refleksi

Poligami, iri kepada Jago: sebuah refleksi

Cerita tentang Jagoku yang hidup bersama ayam-ayam di pekarangan belakang rumah memiliki nuansa emosi sendiri bagiku. Di dalam komunitas itu, hiduplah seekor jago, beberapa ayam betina dan anak-anaknya. Cukup melihatnya saja sudah mendatangkan keirian bagiku. Bagaimana tidak! Jagoku memiliki istri banyak dan anak-anak. Ini jelas sebuah penghinaan: Sementara yang merawat susah payah dan berkali-kali ditolak cintanya, satu saja nggak dapat-dapat, eh.. lha kok peliharaannya begitu mudahnya memadu cinta. Ini jelas yang dipelihara menghina yang memelihara, batinku.

Keirianku ini dikarenakan setiap aku melihat jagoku menggoda para betinanya. Dan pemandangan itu harus aku lihat setiap hari saat memberinya makan. Bisa dibayangkan tentang keirianku yang terjadi setiap saat. Sifat itu akan berujung kepada sebuah penderitaan, dan penderitaan hanyalah langkah menuju rasa sakit. Jadi, yang kurawat pun bisa menyiksaku secara psikologis.

Setiap memandang jago ini, semakin menegaskan tentang kemalangan hidupku. Tentang betapa diriku ini tidak laku-laku dan tentang mengapa hidupku hanyalah selalu berisi penderitaan-penderitaan saja.

Pemantik penderitaan ternyata bisa datang dari mana-mana, di sekitar kita. Bahkan dari hal-hal yang kecil dan tidak masuk akal. Dari kasus Jagoku itu pun ternyata bisa membuatku merana. Jika ditanya, apakah jago itu bersalah? Jelas tidak. Bahkan, dia tidak memiliki niat jahat. Dia hanyalah segumpal daging, darah dan tulang yang berisi instink-instink hidup. Jadi, jika aku memiliki pemikiran yang buruk kepadanya itu hanyalah sebuah cermin yang menunjukkan bahwa keburukan itu ternyata terletak pada diriku ini.

Sebuah kejadian yang sempat menjadikanku mensyukuri segala kesialanku adalah ketika di meja makan. Kumakan dengan lahap tubuh si jago yang telah selama ini aku irikan. Saya bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya siapa yang sedang menjadi pihak yang beruntung. Diriku atau daging yang kumakan ini?

———————-

Keberuntungan dan kesialan, dua hal yang susah dibedakan terhadap sebuah kejadian yang menimpa diri kita. Terkadang yang selama ini kita sangka sebagai sebuah hal yang baik ternyata berdampak buruk, begitu sebaliknya, yang selama ini kita sangka buruk malah ia terakhir hadir dengan segala kebaikan pada diri kita.

Kemampuan untuk selalu berpikir positif, mengambil setiap hikmah yang ada di setiap musibah, dan berbaik sangka dapat mengubah perasaan sial itu menjadi seolah-olah selalu merasa beruntung. Jika sifat-sifat ini sudah kita miliki, maka perasaan iri (cemburu terhadap kebahagiaan) orang lain akan otomatis juga luntur. Jadi adanya perasaan sial dan beruntung sebenarnya terletak pada pola pikir.

 

Sebuah pemikiran untuk sesama.

Terinspirasi dari Al Baqoroh 216

 

artikel terkait: poligami, ayam dan jago, berbaik sangka, bersyukur, cerita renungan diri, penyebab penderitaan, renungan diri

 

Posted in Dunia Psikologi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *