pendidikan anak: Anak-Anak dan Kelakuan Kita

pendidikan anak: Anak-Anak dan Kelakuan Kita

Pendidikan anak: Anak-Anak dan Kelakuan Kita. Di dalam keluarga, selalu berlaku hukum cermin. Sikap kita seperti apa ke keluarga akan kembali kepada kita

Suatu ketika didapati bahwa adikku sedang berantem sengit dengan rivalnya hingga harus di hukum oleh guru kelas. Pertengkaran itu bermula dari permasalahan sepele dan berakhir dengan kerumitan, mengingat sesusia anak-anak sudah berusaha menyelesaikan setiap permasalahan dengan kepalan tangan. Rumit, karena anak-anak belum bisa menyelesaikan masalah dengan berpikir jernih, itu wajar saja, tetapi kalau menjadikan perkelahian sebagai jalan penyelesaian, bagi anak-anak itu terlalu barbarian.

%name pendidikan anak: Anak Anak dan Kelakuan Kita

pendidikan anak: Anak-Anak dan Kelakuan Kita

Jika anak adalah tipe yang belum bisa berpikir jernih, maka untuk perilakunya cenderung banyak meniru dari lingkungannya. Sedangkan lingkungan yang paling dekat bagi anak-anak adalah keluarganya sendiri dan media, serta teman pergaulan. Maka cepat saja saya menarik asumsi, jangan-jangan perilaku nakalnya ini adalah hasil didikan tidak langsung dari orangtuanya. Jika itu benar, maka gawat kalau saya turut andil membrutalkan adik sendiri.

Terkadang setiap orang tidak sadar bahwa perilakunya bisa dan selalu berdampak terhadap orang lain disekitarnya. Jika ada pencopet, maka orang-orang di sampingnya akan teraniaya, jika ada koruptor, birokrasi dan sistem masyarakat menjadi korban, jika ada dermawan, orang miskin ikut senang. Ada sebab ada akibat, dan akibat akan berakhir pada respon/ tanggapan dari akibat itu sendiri.

Begitulah, maka orangtua yang mau tidak mau dekat dengan anak, maka perilakunya berdampak terhadap anak-anaknya. Sebaliknya anak akan merespon apa yang telah di pelajari dari perilaku orangtuanya. Maka, jika anak berperilaku brutal, jangan-jangan, kebrutalan itu sendiri yang telah diajarkan orangtuanya.

pendidikan anak

Di dalam keluarga, selalu berlaku hukum cermin. Bahwa apa yang dilakukan anggota keluarga kita, setidaknya, walaupun tidak bisa dikatakan mendekati, juga tidak bisa dikatakan jauh, adalah cerminan dari anggota keluarga yang lain. Orang tua baik, oh, bisa jadi anaknya menjadi baik. Orang tua nakal, oh, bisa jadi anaknya menjadi nakal. Tidak ada yang aneh, dan itu sah-sah saja.

Maka ketika adikku mencuri sebatang tebu dari desa sebelah, menjadikan cermin perilaku bagi saudara-saudara dan orangtuanya. Oh, ternyata selama ini, orangtuanya juga sering korupsi waktu di kantor. Jika belum saatnya pulang sudah pulang, jika belum saatnya istirahat tetapi sudah istirahat. Saudara-saudaranya yang lain juga begitu, jika selama ini untuk mendapatkan otoritas sebagai kakak agar bisa memarahi adiknya, harus secara sembunyi-sembunyi supaya tidak diketahui orangtua. Jika membeli makan di warung dan mendapat kembalian lebih cuma diam saja. Segera, seluruh anggota keluarga harus berintrospeksi.

Perilaku introspeksi inilah yang sebenarnya dibutuhkan, untuk keseimbangan. Jika ada anak-anak tidak betah berada dirumah, pendidikan seperti apa yang menjadikannya tidak betah. Jika istri uring-uringan, suami harus mencari penyebabnya dari perilakunya terhadap istrinya. Jika kekasih kita selalu cemberut, jangan-jangan kita jarang tersenyum.

Sebuah pemikiran untuk sesama

 

artikel terkait: pendidikan anak, keluarga, pendidikan keluarga, introspeksi diri, hubungan orangtua dan anak, orangtua dan anak, anak dan orangtua

 

Posted in dunia pendidikan | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *