Pedas, sebuah refleksi perenungan diri

Pedas, sebuah refleksi perenungan diri

Pedas, sebuah refleksi perenungan diri

cabai merah pedas 300x147 Pedas, sebuah refleksi perenungan diri

cabai merah pedas

 

Siapa diantara kalian yang suka memakan masakan pedas?
Bagaimana jika orang yang sudah ketagihan makanan pedas kemudian di berikan makanan manis? Pasti akan terasa hambar baginya.

kebiasaan

Nah, memakan makanan pedas adalah suatu habit, atau kebiasaan. Kebiasaan dimunculkan karena efek kenikmatan setiap kali melakukannya. Atau bisa jadi karena sering melakukannya, sehingga muncul rasa nikmat.

Mari kita mengingat pelajaran Sekolah Dasar, coba kita kaji, apakah pedas adalah sebuah rasa? Lidah kita memiliki sensor terhadap rasa, misalnya manis di bagian ujung, asam dan asin di bagian tepi, sedangkan pahit di bagian pangkal. Lalu dimana lidah kita memberikan stimulus pedas? Ternyata tidak ada indera penangkap rasa pedas. Tapi, kenapa kita bisa menikmatinya? Jawabannya tentu karena pedas bukanlah rasa. Ia tidak seperti manis, asam, asin, dan pahit. Lalu bagaimana lidah bisa mensensor? Jawabannya karena efek rasa sakit dan panas. Jadi, sambal yang kita makan itu ternyata berasa karena di dalam sambal tersebut mengeluarkan zat peluka. Ya, fungsinya adalah melukai lidah sehingga terasa pedas. Namun, luka ini sangat berbeda dengan bentuk luka tusukan atau sayatan pisau.

cabai pedas 300x218 Pedas, sebuah refleksi perenungan diri

cabai 

 

Jika saya menyimpulkan, pertama, memakan makanan pedas itu menyakitkan (ingat masa kecil), kedua, karena dibiasakan makanan pedas, sehingga kita mulai belajar menikmati. Ketiga, ternyata pedas adalah bukan rasa melainkan sebuah efek sakit. Jadi dari kesimpulan tersebut bisa dianalogikan bahwa, ternyata rasa sakit itu bisa dinikmati.

Apabila anda merasa ganjil dengan kesimpulan diatas, akan saya buat sebuah contoh lagi perilaku abnormal sadisme. Seseorang yang menikah dengan orang sadisme, sedangkan pasangannya adalah orang normal, maka kemungkinan orang normal ini bisa terserang menjadi masokhis. Dia akan menikmati setiap siksaan yang dilimpahkan pasangannya kepada dirinya. Bahkan dalam kondisi yang sudah parah, orang yang sudah mengidap masokhis ini tidak bisa berejakulasi atau berhasrat seksual jika belum disakiti dan disiksa terlebih dahulu.

Jika rasa sakit bisa dinikmati, dan rasa senang, tentu saja juga bisa dinikmati. Maka, kenikmatan sendiri adalah bersifat relatif. Sehingga, kenikmatan itu bisa muncul sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kenikmatan itu memiliki hubungan timbal balik dengan sesuatu yang menyenangkan.

Apakah aturan itu berlaku hanya untuk kenikmatan dan kesenangan? Ternyata tidak, kebalikan dari itu, penderitaan dan rasa sakit pun bersifat relatif. Sebuah contoh dari makanan tadi, bagi orang yang membenci dan tidak menyukainya, dalam sebuah resepsi pernikahan misalnya, dipaksa untuk memakannya, maka bagi orang ini terasa begitu menyakitkan, sedangkan orang di sampingnya bisa jadi begitu menikmati sampai kekenyangan.

Itulah, sebuah stimulus yang sama, (rasa pedas) di hadapan orang tertentu bisa menimbulkan sensasi perasaan yang berbeda, apakah menikmati atau tersiksa.

Belajar dari artikel tersebut, kita bisa mengambil sebuah pelajaran. Bahwa sebuah stimulus bisa dinikmati atau malah dianggap sebagai sebuah penderitaan tergantung dari bagaimana kita men-setting dan memaknai persepsi dari stimulus tersebut.

Lalu muncullah pertanyaan mendasar: Apakah Anda menginginkan hidup yang menyenangkan? Maka mulailah mensetting dan mempersepsikan segala stimulus-stimulus yang menyakitkan dalam hidup ini dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.

Sebuah pemikiran untuk sesama
Diinspirasi dari obrolan bersama teman sekamar

 

 

 

Posted in artikel | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *