Parade Celana Dalam (3)

Parade Celana Dalam (3)

parade celana dalam 300x150 Parade Celana Dalam (3)

parade celana dalam

 

Parade Celana Dalam (3)

Seorang teman memintaku untuk menengok jendela kamar. Dia menunjuk ke sebuah tempat gantungan baju. Disuruhnya aku menghitung jumlah celana dalamnya yang terpampang jelas dan berderet-deret disana. Satu, dua, tiga…., lima belas. Ada lima belas, Cak! Dia bangga. Belum puas dengan itu, dia memintaku untuk menuliskan tentang celana dalamnya serta kalau perlu di-upload di facebook. Tulisan ini adalah respon dari bentuk permintaan teman tersebut untuk menuliskan cerita tentang celana dalamnya.

Ada hal aneh jika saya jabarkan, dia menjemur celana dalam di depan rumah dan berderet hingga lima belas jejer; Dia menunjukkan kepadaku agar ditonton; Efek senang karena puas telah diperhatikan; Lebih senang lagi kalau moment itu diabadikan dalam bentuk tulisan.

Kesenangan itu yang saya anggap aneh, sementara celana dalam seharusnya letaknya di dalam. Dari namanya saja sudah ketahuan. Sehingga jika kerahasiaan itu dibeber-beberkan, padahal yang seharusnya menjadi rahasia, sedangkan setelah itu ada perasaan puas. Muncullah pertanyaan, ada apa sebenarnya? Namun sebelumnya saya tidak bermaksud memvonis teman saya ini bermasalah… dia bahkan orang normal dan sangat baik-baik saja. Hanya sebuah kajian di balik motif perilaku.

Exhibit dalam kamus adalah memamerkan. Efeknya netral. ia menjadi negatif jika menjadi ekshibisionis. Teman saya itu bukanlah seorang pengidap ekshibisionis. Saya sangat yakin tujuan dibalik teman saya itu adalah sebuah motif untuk mengakrabkan bersama, sebuah joke atau candaan, ini adalah sebuah penekanan. Namun, candaan teman saya itu memantik untuk segera berasosiasi dengan pengidap ekshibisionis. karena dari banyak segi, kriteria perilaku teman saya sama dalam banyak segi pelaku ekshibisionis. bedanya adalah di motif perilaku dan efek kepuasan.

Dalam kamus J.P. Chaplin, Exhibitionism adalah 1.Satu kecenderungan kompulsif untuk memamerkan bagian-bagian tubuh, biasanya alat kelamin, dengan maksud untuk mencapai kegairahan atau kebirahian seksual. 2. Satu kecenderungan mengarahkan pada permintaan perhatian bagi diri sendiri. Orang tipe ini bisa mengalami kegairahan jika bisa mempertontonkan kemaluannya di depan pubik.

Orang ekshibisionis sangat biasa di tempat umum, menunggu ada seseorang datang, umumnya wanita. Setelah dirasa sang wanita mendekat dan sangat dekat, tiba-tiba si pelaku membuka pakaiannya. Dan huaah….! Si wanita menjerit ketakutan. Respon ketakutan korban ini sangat mempengaruhi kepuasan seksual pelaku. Semakin kaget dan ketakutan si korban, semakin bergairah pelaku. Semakin bergairah pelaku, semakin dia menginginkan untuk mencoba membuat terkejut calon korban berikutnya.

Begitulah pelaku ekshibisionis, perilakunya bisa sangat ekstrim dan setiap tindakannya selalu menimbulkan korban. Tindakannya kriminalis. Setiap derita bagi orang lain (kekagetan dan ketakutan) dapat menimbulkan kenikmatan baginya.

Coba anda amati di berbagai media, misalnya internet, bahkan hal yang seharusnya ditutup-tutupi itu malah direkam kemudian di upload, setelah di upload ada perasaan senang. Jika sebagaimana jenis penyakit, ia ada rentang dari gejala, hingga vonis ringan, sedang, dan berat, sampai tak terobati. Begitu pula dengan ekshibisionis, ia memiliki rentang kualitas penyakit. Adakah kriteria gejala itu ada di dalam diri kita?

 

Sebuah pemikiran untuk sesama

 

artikel terkait: wanita gaul, sikap di jalan, tidak tahu situasi, peka situasi, peka kondisi, ekshibisionis,

 

Posted in artikel | Tagged , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *