Jejak Kesabaran sang Guru

Adakah profesi yang lebih membutuhkan kesabaran dan keikhlasan tingkat tinggi dibandingkan guru Taman Kanak-Kanak di desa pelosok? Saya kira kok tidak ada. Bayangkan saja, seorang guru yang harus beradu ngotot berjam-jam dengan sekian puluh siswa yang tidak penuh otaknya. Guru ini harus menang untuk bisa menarik perhatian para muridnya. Padahal dari sekian banyak murid ada yang teriak-teriak, nangis, berantem, dan sederetan perilaku anak umbelen.

Jejak Kesabaran sang Guru

Sang guru harus sabar dan berperilaku pamomong. Di tengah kesabarannya, dia juga harus tak pandang bulu, entah muridnya itu cerdas, pintar, atau tidak paham-paham alias goblok. Guru ini harus telaten mendidik muridnya agar paham dan bisa mengerti apa yang diajarinya. Dia juga harus dituntut untuk mau merawat muridnya selama proses pembelajaran. Bayangkan juga ada murid yang menangis karena telah buang air besar di celana misalnya. Ada yang tidak mau berhenti menangis karena di ganggu teman sebangkunya.

Untuk urusan menceboki anak yang buang air besar saja, jika urusan itu diserahkan kepadaku, maka rasanya seperti dipencundangi hidup-hidup oleh anak kecil. Itu adalah pekerjaan tingkat tinggi yang membutuhkan ketegaan terhadap rasa kotor. Saya jelas pihak yang tidak lulus untuk urusan seperti itu.

Guru TK adalah sebuah pilihan hidup yang hanya layak dijalani oleh para peri dan malaikat saja. Cobaan dari guru TK itu, yang sudah bertubi-tubi dari sekian banyak ujian kesabaran ini, harus ditambah lagi kesabarannya dengan gajinya yang nyaris cukup untuk uang transport saja. Padahal sang guru ini juga perlu makan, membayar tunggakan listrik, membeli baju, dan perlu melunasi hutang-hutangnya.

Setiap memandang wajah adik saya, dan disetiap pamer ilmu baru yang dia dapat dari sekolahnya, selalu terbayang dibalik itu semua betapa mulianya sang guru yang selalu ikhlas mengajarinya. Dari adik saya itu selalu saya diingatkan, bahwa sebelum makan harus berdoa, setelah makan harus berdoa, dalam aktivitas apapun harus berdoa, untuk belajar harus gembira. Dari adik saya itu, mengajari seluruh anggota keluarga betapa pentingnya menjalani hidup dengan melibatkan Tuhan.

Dibalik kebanggaan kami terhadap sang adik, ada semangat guru TK tersebut. Padahal dari guru ini, dia hanyalah sebuah pendidik sementara, untuk selanjutnya harus berganti-ganti. Selesai guru TK, berganti guru SD, berganti SMP, SMA, dan dosen. Entah nantinya, sang guru TK ini akan diingat? Mungkin akan terlupakan. Namun ilmu yang telah diajarkannya itu, terus mengalir dalam diri kita semua. Dalam setiap titik darah pendidikan kita, dalam setiap kata-kata yang kutulis. Karena dialah sosok guru yang telah mengajarkan kita untuk mencoret-coret kertas sampai dengan belajar menulis.

Maka dibalik semua tulisan saya ini (dan kita semua), ada jasa guru TK. Sudahkah kita menengok wajah yang sudah menua itu? Yang telah mula-mula mendidik kita menjadi pribadi tangguh seperti sekarang? Ingatkan kita, bahwa jasa guru itu tak terbalas, maka sekali waktu tolong kita lantunkan namanya di dalam doa yang kita panjatkan….

%name Jejak Kesabaran sang Guru
Sebuah pemikiran untuk sesama tentang jejak kesabaran sang guru.

 

artikel terkait: guru sabar, kesabaran guru, refleksi guru, renungan guru, cerita guru, guru yang baik, guru yang sabar

Posted in artikel | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *