Dekapan Malam

Dekapan Malam

Dekapan Malam

Malam mendekap pekat,

Hujan gelap… suasana pengap,

Biarkan langit menangis, itu tidak lama

Karena setelah reda jeritan dan cucuran air mata, pasti bulan tersenyum kepada kita, inginku.

 

Suasana menjadi kian dingin, mungkin karena sapaan dari tarian angin

Kedinginan itu, membuatku berharap.

Kira-kira seperti ini anganku:

“Hujan dingin seharian datang, beruntung bagi suami yang bisa memeluk istri tersayang,
Malang bagi para jomblo yang hanya bisa memeluk tiang, maka dalam gelap aku berdoa tegang, agar hujan cepat berganti terang.”

 

Doa itu harus berhati-hati aku panjatkan,

Agar tidak terkesan menggurui dan memerintah Tuhan.

Doa itu harus hati-hati aku lantunkan, agar tidak mengganggu tetangga yang juga sedang menderita.

Tapi disitulah kelebihan atas Tuhan, Dia baik…
Karena mau mengabulkan permintaan anak nakal sepertiku.

Tangisan langit reda, mungkin karena doaku agar Tuhan sudi menghiburnya.

Ia tidak lagi menangis. Aku senang…

Dalam batin aku mengulang,

“mungkin karena doaku, mungkin karena doaku, mungkin karena doaku!”

Dalam angan aku mengira untuk melibatkan diri di dalam jalan alam yang teramat luas.
Melibatkan di dalam siklus kehidupan, dan turut mengambil peran di sana.

Aku melupakan kuasa Tuhan atas segala genggaman alam, dan terngiang kata-kata, “mungkin karena doaku!”

Kini, aku menjadi angkuh dengan doaku yang dikabulkan Tuhan.

Di kabulkan? Jangan-jangan…. itu juga keyakinan yang timbul dari keangkuhanku.

 

Dalam pekat malam sebagai saksi, kebaikan Tuhan kubalas dengan keburukan hati.

 

artikel terkait: puisi malam, dekapan malam, puisi diri

 

Posted in artikel | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *